Tradisi Jawa Mudhun Lemah Atau Tedhak Siten

Tadisi Mudhun Lemah Adat Jawa - Perwujudan kebahagiaan atas kelahiran seorang anak diwujudkan dalam upacara etika untuk bayi menyerupai mitoni, selametan, selapanan, mudhun lemah, dan sunatan. Upacara etika ini masih sering dilaksanakan sebagian masyarakat jawa yang pada umumnya mempunyai fungsi spiritual, yaitu menawarkan petunjuk atau citra korelasi insan dengan Tuhan, hal ini untuk memenuhi kebutuhan rohani insan dan fungsi sosial dimana dalam upacara melibatkan individu-individu warga masyarakat yang mempunyai kepentingan sama, yang dengan dilandasi  oleh kepercayaan dan keyakinan.

Apa Itu Tradisi Mudhun lemah?

Tradisi Mudhun lemah ialah salah satu upacara etika budaya Jawa yang dilaksanakan ketika seorang bayi sudah berumur tujuh bulan. Pada usia tersebut, bayi sudah mulai menampakkan kakinya untuk pertama kali ditanah, dengan di bimbing dan dituntun oleh orang tuanya dengan memakai kakinya untuk mencar ilmu berjalan. Ritual ini menggambarkan kesiapan seorang anak untuk menghadapi kehidupannya. Adapun perlengkapan upacara yang dipakai dalam tradisi etika muduh lemah, adalah:

 Perwujudan kebahagiaan atas kelahiran seorang anak diwujudkan dalam upacara etika untuk ba Tradisi Jawa Mudhun Lemah Atau Tedhak Siten


Perlengkapan Upacara Tradisi Mudhun lemah


  • Kurungan ayam
Bukan sekadar kurungan biasa, melainkan dihiasi dengan janur kuning atau kertas hias warna-warni atau semacam pita hias semoga tampak indah pada bab luarnya.

  • Beras kuning
Adalah beras yang telah diwarnai dengan pewarna alami dengan kunyit atau kunir. Kemudian dalam beras kuning dimasukkan uang logam yang nanti ditaburkan di selesai upacara mudhun lemah sesudah kurungan.

  • Jadah
Adalah beras ketan yang ditumbuk halus dan dicampuri dengan parutan kelapa, serta ditambahi garam semoga rasanya gurih tanpa diberi warna. Biasanya berwana putih yang melambangkan makna kesucian.

  • Kembang boreh dan kemenyan
Biasanya dibungkus dengan daun pisang yang isinya kembang mawar, kembang ijo,dan kembang abang, dan kemenyan biasanya dinyalakan pada waktu program dimulai.

  • Sego (Nasi) berkat
Nasi berkat ialah nasi yang dibungkus dengan kardus, biasanya disajikan dengan gudhangan ( hidangan yang terbuat dari sayur kacang panjang, kangkung dan kecambah yang diberi bumbu kelapa yang telah dikukus dan disangrai serta lauk-pauk menyerupai tahu,tempe, dan telur. Adapun makna sayur kacang panjang sebagai simbol semoga si anak berumur panjang. Sayur kangkung bermakna dimanapun si anak hidup ia bisa tumbuh dan berkembang. Sedangkan sayur kecambah sebagai simbol kesuburan. Sedangkan Runtutan upacara Mudun lemah adalah, sebagai berikut :


Tata Cara Upacara Tradisi Mudhun lemah - Adat Jawa

  • Lunguh jadah
Urutan pertama yaitu lungguh jadah. Seorang ibu mendudukkan anaknya di atas jadah.
  • Kurungan 
Sang anak di masukkan ke dalam kurungan ayam yang telah dihiasi dengan janur dan pita-pita berwarna. Setelah si anak berada di dalam kurungan, si anak di suruh menentukan benda, sesuai etika sekitar.
  • Kepyur duit
Pada ketika ngepyur duit biasanya yang hadir dalam upacara saling berebut mengambil uang yang telah disebarkan bersamaan beras kuning dengan tujuan mencari berkah dari upacara mudhun lemah.
  • Kenduri
 Seorang sesepuh atau tokoh masyarakat memipin doa bersama semoga keluarga dan sang buah hati khususnya mendapat keselamatan dunia dan akhirat. Setelah itu pembagian nasi berkat sebagai simbol sedekah atas program tersebut.

Sebagai info jika Tradisi Jawa Mudhun Lemah ini juga dikenal sebagai 'Tedhak Siten' ( turun tanah ). Tedak siten (dari kata Jawa= tedak = cedhak ( men-dekat ). Siten = siti = lemah (jawa = tanah ) .Ketika anak menginjak 8 bulan ( pitung lapan ), tradisi ini tidak hanya di Jawa, didaerah lain di Indonesia juga ada tradisi menyerupai ini. Tradisi turun tanah menjadi symbol bagi kalangan masyarakat jawa mengisyratakan dalam usia tersebut seorang anak sudah saatnya untuk kembali ketanah. Menginjakan kakinya ke tanah sebagai upaya pendekatan kepada dirinya sendiri yang berunsurkan tanah. Dan sekaligus merupakan usia anak untuk melatih dirinya untuk berjalan di tanah yang pertama kali. Semoga bermanfaat.

0 Response to "Tradisi Jawa Mudhun Lemah Atau Tedhak Siten"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel